Rabu, 17 November 2010

SALAH ORANG

SALAH ORANG

Kejadian yang memalukan ini terjadi saat aku masih duduk di bangku SMA, tepatnya saat aku kelas 2 SMA. Saat aku pulang sekolah setelah bel berbunyi, aku pun bergegas pulang, setiap pulang sekolah aku selalu pulang bersama dengan temanku namanya Cintia, karena memang rumah kita satu arah. Hari itu kita pulang seperti biasa, aku dan Cintia memang terbiasa jajan sebelum pulang sekkolah, kita biasa jajan cimol atau kentang goreng yang ada di depan gerbang sekolah.

Saat aku dan Cintia sedang jajan, tiba- tiba Cintia berkata “ nono, itu ada Faris !!!”. Faris adalah teman sekelas aku dan Cintia pada saat kelas 1, tetapi kini kami tidak sekelas lagi. Faris bisa dibilang “aneh” karena kelakuannya yang “unik”, tingkah lakunya terlihat seperti anak yang masih kecil padahal dia sudah SMA, jadi aku dan Cintia senang “menggodanya “ karena jika sudah kita ganggu pasti dia akan mengeluarkan eksperi dan kata-kata yang lucu, membuat kita tertawa.

Nah, mendengar nama “Faris” sontak aku kaget dan langsung terbesit dalam pikiranku “wah, asyik ni godain Faris lagi ah” , naluri “keisenganku” pun muncul. Hahahaha..

Aku dan Cintia pun bergegas menghampiri “ Faris” yang sedang jajan di warung. Dia sedang sibuk memilah-milih jajanan sampai tidak sadar aku dan Cintia berada tepat di belakangnya dan siap mengagetkannya. Aku pun bersiap – siap menghitung , 1...2..3... “ DOOORRRR!!!!” , aku berteriak dengan sangat kencang dan penuh semangat. Saat itu juga sosok yang ku kira Faris menoleh ke belakang, dan apa yang aku dapatkan ??? dan dia berkata “ kenapa ?? “ dengan wajah yang memandang aneh terhadapku. Hadohhhhh,, ternyata “SALAH ORANG”, dia bukan Faris, dia teman sekelas baruku namanya Daniel, memang kalau dari belakang dia sangat mirip dengan Faris. Tidak hanya dia yang memandang aneh terhadapku, orang-orang disekitarnya pun langsung menyorotkan pandangannya kepadaku. Malu, malu, malu.... pasti dia berpikir aku “ makhluk aneh “ yang baru datang dari negeri entah berantah, yang tiba-tiba saja berteriak tanpa sebab. haduhhh.. entah apa yang dia pikirkan tentang diriku.

Ternyata eh ternyata, ini adalah salah satu “keisengan” Cintia, dengan senang dan begitu bahagianya Cintia tertawa tanpa bisa dihentikan. Dia merasa senang karena berhasil “menjahiliku” sedangkan aku yang harus menanggung malu. Cintiaaaaaaa..... awas ya!!!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar